Melampaui Tekstualisme: Negosiasi Hermeneutika Salafi dalam Tafsir Digital Muhammad Abduh Tuasikal atas Surah al-Fatihah
Keywords:
Salafisme, tafsir digital, al-Fatihah, tekstualisme, Muhammad Abduh TuasikalAbstract
Artikel ini mengkaji praktik penafsiran Surah al-Fatihah yang dilakukan oleh Muhammad Abduh Tuasikal melalui kanal YouTube Rumaysho TV dengan fokus pada relasi antara tafsir, ideologi Salafisme, dan media digital. Selama ini, Salafisme sering dipahami sebagai bentuk tekstualisme keras (hard textualism) yang cenderung literal, anti-konteks, dan menolak negosiasi hermeneutis. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis analisis wacana terhadap ceramah, buku tafsir, dan konten digital Ustaz Abduh, artikel ini menunjukkan bahwa praktik tafsir Salafi di Indonesia tidak sepenuhnya berjalan secara rigid sebagaimana diasumsikan oleh para sarjana. Studi ini menemukan bahwa penafsiran Ustaz Abduh tetap mempertahankan karakter utama hermeneutika Salafi, seperti dominasi hadis sahih, penekanan pada makna literal, pemurnian tauhid, kritik terhadap bidah, serta penolakan terhadap ta’wil pada ayat sifat. Temuan ini memperlihatkan bahwa tafsir Salafi kontemporer tidak dapat dipahami secara biner antara literal dan kontekstual, melainkan sebagai praktik hermeneutis yang terus bernegosiasi dengan tradisi, otoritas, dan realitas sosial modern.